Argentina Kalah, Karma Palestina?

Bagikan

PREDIKSI.CO, INTERNASIONAL – Demikianlah akhir perjalanan Lionel Messi bersama Tim Tango di final Piala Dunia. Ketika peluit panjang berbunyi sebagai tanda berakhirnya pertandingan, ia tampak lunglai. Kepalanya tertunduk lesu, matanya sembab. Di papan skor terpampang hasil yang menyakitkan: Spanyol menang tipis 1-0.

Bagi Messi, kekalahan itu bukan sekadar kegagalan mempertahankan gelar juara dunia. Di usianya yang kini menginjak 39 tahun, partai final itu terasa seperti pentas terakhirnya di ajang Piala Dunia. Empat tahun lagi, usia mungkin akan menjadi lawan yang lebih berat untuk ditaklukkan daripada sebelas pemain di atas lapangan. Namun, sebelum pertandingan dimulai, media sosial sudah lebih dulu memainkan “pertandingan” versinya sendiri.

Semua bermula ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungannya kepada Argentina. Jagat maya pun langsung ramai. Sebagian warganet dengan cepat mengaitkan hal itu dengan sikap pemerintah Spanyol yang selama ini lebih vokal dalam mengkritik operasi militer Israel di Gaza dan menunjukkan dukungan kepada Palestina.

Meme-meme bertebaran di mana-mana. Sindiran dan cemoohan pun tak terbendung. Berbagai teori jenaka diproduksi tanpa henti. Bahkan, tidak sedikit pendukung Argentina yang buru-buru menegaskan bahwa dukungan Netanyahu tidak mewakili sikap rakyat Argentina, yang banyak pula mengecam tragedi kemanusiaan di Gaza.

Benar atau tidak, begitulah cara kerja media sosial. Di sana, fakta sering kali bercampur aduk dengan imajinasi. Lalu lahirlah apa yang dalam bahasa Jawa disebut ilmu gotak-gatuk—segala sesuatu dicocok-cocokkan agar terlihat saling berkaitan.

Sebelumnya, fenomena serupa juga muncul menjelang pertandingan semifinal. Ketika mantan Presiden Joko Widodo mengaku mendukung Prancis di semifinal, tetapi Prancis justru tersingkir oleh Inggris.

Cocokologi pun berkembang subur. Ada yang berseloroh bahwa nasib Partai Solidaritas Indonesia pada Pemilu 2029 akan mengikuti jejak Prancis karena sama-sama “didukung Jokowi.”

Tentu saja semua itu hanya bahan candaan. Namun candaan di media sosial kerap dianggap lebih menarik daripada kenyataan itu sendiri. Padahal, ada kisah lain yang jauh lebih indah daripada semua teori gotak-gatuk tersebut.

Sembilan belas tahun silam, Barcelona bersama UNICEF menggelar sesi pemotretan amal. Mega bintang Barca, Lionel Messi, diminta menggendong sekaligus memandikan seorang bayi berusia enam bulan. Tak seorang pun saat itu menyangka bahwa bayi mungil tersebut kelak akan berdiri di hadapannya pada final Piala Dunia. Bayi itu bernama Lamine Yamal.

Adegan itu nyaris terlupakan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Yamal menjelma menjadi salah satu talenta terbaik dunia, momen dalam selembar potret itu kembali viral. Kebetulan atau takdir? Pada Senin dinihari lalu, sosok yang dulu memandikan dan yang dimandikan akhirnya saling berhadapan dalam laga terbesar di dunia sepak bola.

Ketika pertandingan usai, Yamal tidak larut dalam pesta kemenangan. Ia justru mendekati Messi. Keduanya berpelukan cukup lama. Bagi penulis, momen itu jauh lebih bermakna daripada semua teori gotak-gatuk yang memenuhi linimasa. Netanyahu boleh mendukung siapa pun. Jokowi boleh menjagokan tim mana pun. Warganet bebas menciptakan ribuan teori dan cocokologi.

Tetapi sepak bola selalu memiliki cara untuk mengingatkan kita bahwa pertandingan terbesar sesungguhnya bukanlah tentang siapa mendukung siapa. Melainkan tentang bagaimana seorang manusia tetap menghormati manusia lainnya—bahkan ketika mereka berdiri di sisi yang berlawanan.

Editor: Redaksi

Baca Selengkapnya

Local News