Bobby Rizaldi Tokoh BPK Yang Disorot KPK

Bagikan

PREDIKSI.CO, SOSOK – Mantan anggota Dewan Pakar Partai Golkar, Ridwan Hisjam, mengenal anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Bobby Adhityo Rizaldi, sebagai putra dari sahabat lamanya, Marzuki Achmad. Marzuki adalah politikus senior Golkar yang pernah menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR periode 2000-2002 dan meninggal dunia pada akhir Januari 2026.

Ridwan terakhir bertemu Bobby saat melayat ke rumah duka di Jalan Hang Lekiu I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rumah tersebut kebetulan berseberangan dengan kantor Kosgoro 1957, organisasi sayap Partai Golkar. Marzuki pernah aktif di organisasi itu pada 1988-1999. “Sekarang Bobby melanjutkan karier bapaknya,” ujar Ridwan pada Kamis, 9 Juli 2026.

Bobby pada awalnya bukanlah politikus. Ia justru memulai karier sebagai akuntan. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta, pada 1995, Bobby bekerja di sebuah kantor akuntan publik. Selama kurun waktu 1998 hingga 2022, ia berpindah-pindah dari satu kantor akuntan ke kantor lainnya.

Sembari menjalani profesi sebagai akuntan, pria yang kini berusia 52 tahun itu mengambil program Master of Business Administration di Cleveland State University, Amerika Serikat, dan berhasil lulus pada 1999. Pada 2022, ia melanjutkan pendidikan ke Program Doktor Ilmu Pertahanan di Universitas Pertahanan RI, Bogor, Jawa Barat. Ia juga memiliki sejumlah sertifikat profesi, di antaranya Chartered Accountant (CA), Certified Fraud Examiner (CFE), dan Certified State Finance Auditor (CSFA).

Bobby sempat beralih ke industri minyak dan gas bumi ketika bergabung dengan ConocoPhillips Indonesia pada 2002-2004. Setelah itu, ia pindah ke Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagai pengawas dari 2004 hingga 2008. Pada periode inilah Bobby mulai aktif dalam organisasi. Ia bergabung dengan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), salah satu organisasi kepemudaan yang menjadi wadah kaderisasi Partai Golkar.

Bobby benar-benar terjun ke dunia politik pada Pemilihan Umum 2009. Ia memilih kembali ke daerah asal keluarganya di Sumatera Selatan dan akhirnya terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Sumatera Selatan II, yang mencakup Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat. Ia meraih 30.505 suara.

Posisinya di lingkaran inti Partai Golkar pun ikut menguat. Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat AMPI periode 2010-2016. Pada 2013-2018, Bobby juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro 1957. Kegiatannya di organisasi berjalan lancar karena ia pernah menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam semasa kuliah.

Jejaknya di Sumatera Selatan pun semakin dalam. Pada 2017-2020, ia menjabat Ketua Pengurus Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia Sumatera Selatan. Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar juga pernah menunjuk Bobby sebagai Pelaksana Tugas Ketua Dewan Pimpinan Daerah Sumatera Selatan pada 2021.

Saat terpilih menjadi anggota DPR 2009-2014, Bobby bertugas di Komisi VII DPR yang membidangi energi dan sumber daya mineral. Di Fraksi Partai Golkar, ia dikenal sebagai salah satu juru bicara untuk isu energi, minyak dan gas bumi, industri pertahanan, anggaran, keamanan siber, serta komunikasi dan digital.

Pada periode berikutnya, Bobby berhasil mempertahankan kursinya di DPR selama tiga periode berturut-turut. Saat itu ia juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Kosgoro 1957 DPR. Pada 2014-2019, Bobby bertugas di Komisi I yang membidangi pertahanan dan juga masuk dalam Badan Anggaran DPR yang berperan dalam pembahasan kebijakan fiskal serta APBN. Ketika kembali menjadi anggota legislatif periode 2019-2024, Bobby tetap bertugas di Komisi I.

Setelah menjadi anggota DPR, Bobby juga aktif di kancah internasional. Ia bergabung dengan ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR), organisasi anggota parlemen yang fokus pada isu demokrasi dan hak asasi manusia di Asia Tenggara.

Menurut anggota Dewan Pengurus APHR, Eva Sundari, Bobby cukup aktif saat mengadvokasi revisi KUHP, “terutama pasal-pasal yang berkaitan dengan kebebasan beragama,” tutur Eva pada Kamis, 9 Juli 2026.

Karier Bobby di Senayan terhenti pada Pemilihan Umum 2024. Ia gagal melanjutkan kariernya di DPR. Partai Golkar kemudian mendorongnya menjadi kandidat anggota BPK bersama satu kader lain, yaitu Mukhamad Misbakhun. Tempo pernah mengulas persaingan keduanya dalam artikel “Jalur Koalisi di Pejompongan” pada 1 September 2024.

Dua politikus Partai Golkar yang ditemui secara terpisah mengatakan bahwa awalnya nama Misbakhun yang muncul sebagai calon anggota BPK. Saat itu Partai Golkar masih dipimpin oleh Airlangga Hartarto. Namun, arah dukungan berubah setelah ketua partai berganti menjadi Bahlil Lahadalia. Nama Bobby kemudian muncul dan justru menguat. Bobby juga diklaim mendapat dukungan dari kelompok pengusaha.

Bobby akhirnya terpilih menjadi Anggota V BPK periode 2024-2029 pada September 2024. Anggota V bertugas memeriksa pengelolaan keuangan negara di pemerintah daerah seluruh Pulau Sumatera dan Jawa.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara per Maret 2026, Bobby memiliki total harta kekayaan Rp 27,84 miliar. Harta tersebut antara lain berupa tanah dan bangunan senilai Rp 20,3 miliar yang tersebar di sejumlah daerah. Di antaranya dua bidang tanah dan bangunan di Jakarta Selatan masing-masing senilai Rp 2,5 miliar dan Rp 5 miliar, serta satu bidang di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, senilai Rp 1 miliar.

Saat ini, nama Bobby terseret dalam kasus dugaan suap yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namanya muncul setelah KPK menangkap pegawai BPK Sumatera Selatan dan Augusz Dewanggara alias Angga, yang disebut-sebut sebagai orang kepercayaannya. KPK menduga para tersangka mengatur hasil audit BPK di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

KPK telah menggeledah rumah Bobby di Jakarta Selatan pada Selasa, 14 Juli 2026. Tim Kedeputian Penindakan dan Eksekusi KPK menyita sejumlah barang elektronik dari penggeledahan tersebut. “Barang bukti elektronik ini selanjutnya akan diekstrak untuk kebutuhan pendalaman informasi yang dibutuhkan penyidik,” ujar juru bicara KPK, Budi Prasetyo.

Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, menyatakan bahwa Bobby terseret dalam kasus ini karena diduga dekat dengan salah satu tersangka bernama Augusz Dewanggara. Ada pula bukti percakapan di antara para pelaku. “Penyidik sedang mendalami,” tutur Taufik Husein.

KPK memeriksa Bobby selama sembilan jam pada Kamis, 16 Juli 2026. Bobby tidak menjelaskan secara rinci materi pemeriksaan yang digali penyidik. Ia juga memilih bungkam saat awak media melontarkan berbagai pertanyaan. “Semua sudah disampaikan kepada penyidik dan kami sangat mendukung proses ini supaya cepat selesai,” kata Bobby di luar Gedung Merah Putih KPK.

Editor: Redaksi

Baca Selengkapnya

Local News