PREDIKSI.CO, WISATA – Pariwisata ramah Muslim kini semakin populer. Di sejumlah negara, termasuk Indonesia, potensi ini terus digali dan dikembangkan mengingat besarnya jumlah wisatawan Muslim dari berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025, pasar wisatawan Muslim global menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dan menjadi salah satu segmen dengan perkembangan tercepat. Sepanjang tahun lalu, tercatat 196 juta perjalanan wisatawan Muslim, dan GMTI memprediksi angka tersebut akan meningkat hingga 262 juta perjalanan pada tahun 2030.
Seiring dengan bertambahnya jumlah itu, berbagai negara terus bersaing menghadirkan destinasi yang lebih nyaman dan sesuai dengan standar pariwisata ramah Muslim. Untuk mengukur hal tersebut, GMTI menggunakan kerangka penilaian ACES (Access, Communication, Environment, Services) sebagai tolok ukur utama.
Access (Akses)
Dalam konteks ini, akses tidak hanya soal rute perjalanan semata. Lebih dari itu, akses mencakup kemudahan wisatawan dalam mencapai destinasi melalui berbagai pilihan moda transportasi, kualitas infrastruktur, konektivitas, hingga mobilitas selama berada di lokasi wisata.
Destinasi dengan akses yang baik tentunya memungkinkan wisatawan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menikmati perjalanan. Bagi wisatawan Muslim, kemudahan ini menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman perjalanan yang nyaman dan efisien.
Communication (Komunikasi)
Komunikasi menjadi aspek penting lainnya dalam standarisasi pariwisata ramah Muslim. Dimensi ini meliputi penyediaan panduan wisata Muslim, informasi lokasi masjid dan musala, daftar restoran halal, kesiapan pemandu wisata, promosi digital, hingga edukasi bagi para pelaku industri pariwisata.
Semakin mudah wisatawan mengakses informasi yang akurat, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan mereka terhadap sebuah destinasi. Di era digital, komunikasi bahkan menjadi “gerbang pertama” yang menentukan keputusan wisatawan.
Environment (Lingkungan)
Lingkungan yang nyaman tentu menjadi nilai tambah bagi sebuah destinasi. Tidak hanya nyaman, kebersihan, rasa aman, keramahan, serta sarana dan prasarana yang memadai dapat memanjakan wisatawan dan menumbuhkan keinginan untuk kembali ke tempat yang sama berulang kali.
Tanpa lingkungan yang mendukung, sebuah destinasi bisa meninggalkan kesan buruk di mata wisatawan. Karena itu, bukan hanya pengelola destinasi saja, melainkan diperlukan sinergi dari banyak pihak untuk menciptakan lingkungan yang baik.
Services (Layanan)
Pada aspek ini, destinasi dinilai berdasarkan ketersediaan fasilitas yang benar-benar dibutuhkan oleh wisatawan Muslim, seperti makanan halal, musala atau masjid yang mudah dijangkau, tempat wudu yang memadai, penunjuk arah kiblat, hotel ramah Muslim, hingga toilet yang dilengkapi dengan air.
Namun, layanan ramah Muslim tidak berarti seluruh fasilitas harus bersifat eksklusif. Justru yang diutamakan adalah kemudahan akses terhadap layanan tersebut, sehingga wisatawan dapat menjalankan ibadah tanpa mengganggu aktivitas berwisata mereka.
Prinsip inilah yang membedakan wisata ramah Muslim dengan wisata religi. Wisata ramah Muslim tidak mengubah karakter sebuah destinasi, melainkan memperkaya kualitas pelayanannya agar semakin nyaman bagi semua pengunjung.
Keempat pilar ACES menunjukkan bahwa wisata ramah Muslim bukan sekadar soal makanan halal atau tempat salat, melainkan sebuah ekosistem yang mengintegrasikan aksesibilitas, informasi, kualitas lingkungan, dan layanan untuk menciptakan pengalaman wisata yang utuh dan menyeluruh.
Editor: Redaksi